Sejarah Pakaian Muslim di Indonesia

24 Oct 2020

Sejarah Pakaian Muslim di Indonesia

Awal tahun 1980-an Aktris senior Ida Royani, pernah mendapat tawaran dari pengelola Sarinah, untuk menjual baju muslim rancangannya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Ibukota saat itu.

Momen itu tak hanya dianggap menjadi titik awal Ida menggeluti bisnis busana muslim, namun juga jadi tonggak perkembangan busana muslim tanah air.

Kala itu, Ida baru saja memutuskan berhenti menyanyi, menyusul keputusannya memakai jilbab tahun 1978. Meski harus perang batin karena harus meninggalkan profesi yang dicintainya itu, Ida akhirnya menemukan profesi baru yang tak kalah dia gandrungi.

Bukan hal yang mudah bagi Ida untuk menggeluti bisnis yang saat itu kurang dilirik. untuk mewujudkan keinginannya membuka butik, Ida mencari penjahit untuk mengeksekusi desain bajunya. Satu demi satu desain yang ia buat rampung dikerjakan. Satu desain baju tidak dia produksi masal, tapi hanya satu dua potong. Begitu baju yang diproduksi cukup banyak, butik pertama yang menjual baju muslim akhirnya buka di Sarinah Thamrin pada awal 1980-an.

Tapi, busana muslim rancangan Ida bukan tanpa cela. Kala itu busana muslim belum menjadi pilihan pakaian yang lumrah. Namun, Ida tak gentar. Yang terpenting baginya adalah busana muslim yang menutupi aurat dan tidak ketat. Ketika mendesain busana muslim berkain tipis, Ida tak habis akal. Ia menambahkan furing, kain tambahan di bagian dalam pakaian agar tidak tembus pandang.

Pertengahan 1980-an, Ida membuka butik keduanya di Pasaraya, Blok M. Mall busana itu tak hanya mewah dan elit, tapi sekaligus pusat mode ibukota sebelum ada Sogo, Seibu, atau Metro. Bisnis pakaian muslim Ida berkembang. Dia kerap menggelar pameran busana di beberapa negara, mulai Malaysia hingga Rusia.

Setelah itu, mulai bermunculan desainer busana muslim yang mengikuti jejak Ida Royani, seperti Anne Rufaidah, Ida Leman. Busana muslim mulai masuk Pasaraya, Bahkan, Anne Rufaidah yang juga salah satu pionir, pada 1985 sudah mengekspor rancangannya ke Arab Saudi. Desain-desainnya terkenal hingga mancanegara melalui berbagai pagelaran busana, seperti di Malaysia, Aljazair, Dubai, dan India.

Alhasil, popularitas busana muslim meningkat pada 1990-an. Peningkatan itu terjadi tak lepas dari makin diterimanya identitas keislaman oleh rezim Orde Baru.Terlebih Presiden Soeharto mulai merangkul kalangan Islam.

Di Era ini, jumlah kelompok pengajian meningkat. Kelompok-kelompok itu seringkali dipimpin mubalighah seleb yang berpenampilan modis. Selain Ida sendiri, ada Neno Warisman yang memutuskan berjilbab pada 1990-an. Di kalangan pria, ada kiai Abdullah Gymnastiar, Jefry al-Buchori atau Ahmad al-Hasby yang menjadi ikon busana muslim pria.

Mereka menjadi faktor penting yang menarik masyarakat menggunakan busana muslim, terutama busana muslim modis. Ida memahami betul posisi itu untuk bisnisnya. Ida kemudian tak hanya membuat busana muslim untuk perempuan. Mukena, baju koko, dan baju muslim anak merupakan varian produk bisnis busana muslimnya.

Ketika pasar jilbab dan busana muslim ramai, banyak pihak ikut terjun ke dalamnya. Brand-brand seperti Zoya, Rabbani, Elzatta, bahkan brand kenamaan seperti Dolce and Gabbana, DKNY, atau Zara bermunculan. Mereka tak hanya menawarkan beragam model jilbab tapi juga kemewahan dan status lewat citra mereka di masyarakat.

BUSANA MUSLIM DARI MASA KE MASA

Kisah Ida Royani sebagai salah satu pionir busana muslim di Tanah Air, jadi sketsa yang menarik, bagaimana kaitan antara mode, politik dan bisnis saling memberi bingkai.

Nah, sebelum model baju muslim berkembang seperti sekarang, ternyata  penggunaan penutup kepala (hijab) bagi wanita sempat dilarang. Padahal Islam di Indonesia sudah masuk sejak abad ke 7. Mau tahu lebih jauh? ada baiknya kita pahami rangkaian sejarah perkembangan mode, khususnya busana muslim di tanah air, mulai dari Islam masuk ke Nusantara.

Abad ke 7

Seperti yang kita ketahui bersama, penyebaran Islam di Nusantara semakin berkembang karena peran para wali songo di Pulau Jawa.  Pada abad ke 19 atau masa wali songo menyebarkan Islam, wanita-wanita penganut Islam di Nusantara belum menutup kepalanya atau berjilbab. Meski sudah sejak lama diketahui bahwa wanita muslim berkewajiban menutup kepalanya.

Muncul berbagai gerakan di Nusantara memperjuangkan penggunaan jilbab di masyarakat, seperti  gerakan Paderi di Minangkabau, serta ormas-ormas Islam lainnya. Meski gerakan ini digalakkan, nyatanya tidak secara langsung meminta para wanita untuk langsung menutup kepalanya seperti model hijab yang dikenal saat ini.

Dulu para wanita hanya menggunakan kain panjang tipis yang dikaitkan di bagian kepala dengan rambut, dan leher yang masih kelihatan serta menggunakan pakaian khas daerah seperti kebaya kutu baru.

Masa Kemerdekaan

Sebelum kemerdekaan dan masa orde lama penggunaan kerudung menjadi polemik di mayarakat.  Sementara penggunaan kerudung di orde lama mendapat pertentangan keras dari penguasa pada saat itu. Sebab, kala itu sempat ada aturan apabila siswi SMP/SMA ataupun pegawai negeri yang menggunakan jilbab dianggap telah melanggar aturan, sehingga praktis pada masa ini kerudung mayoritas digunakan oleh  santriwati, kelompok usroh dan tarbiyah. Pada masa itu, santriwati menggunakan tunik selutut dengan model sederhana yang dipadukan dengan rok panjang serta kerudung segi empat yang dilipat dan diberi peniti di bawah dagu.

Masa Tahun 1980-an

Setelah perjuangan panjang akhirnya pada tahun 1980an para aktivis Islam perempuan di perkotaan, termasuk mahasiswi/pelajar dapat menggunakan busana muslimah dengan jilbab yang tertutup rapi mulai dari rambut, leher hingga dada. Pada masa itu, model baju muslim berupa abaya bernuansa netral. Abaya sendiri merupakan pakaian sederhana dengan potongan lurus, melebar, dan longgar. Model kerudung pun tidak mengalami perkembangan, masih mirip gaya santriwati berkerudung.

Pada periode ini, model busana muslim mulai dikenal, karena keberanian beberapa seperti Ida Royani, Anne Rufaidah, dan Ida Leman. Busana muslim rancangan mereka mulai menghiasi mal-mal besar di Ibukota. Tahun 80an menjadi awal keemasan perkembangan busana muslim tanah air.

Masa Tahun 1990-an

Tahun 1990an memang model baju muslim terbilang cukup berkembang dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan muncul beberapa merk busana muslim yang menawarkan berbagai desain pakaian untuk memenuhi permintaan pasar.

Pada tahun 1996, APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia) mendirikan sebuah divisi yang mengkhususkan pada busana muslim. Meski kebanyakan desainer yang tergabung adalah wanita, tetapi desainer ini juga mendesain pakain muslim untuk pria, remaja dan juga anak- anak.

Untuk busana muslim pria memang lebih sering digunakan untuk perayaan hari raya dan biasanya disebut sebagai baju koko. Baju koko sendiri merupakan baju yang bentuknya mirip dengan kemeja, tetapi memiliki model kerah shanghai.

Masa Tahun 2000-an

Sebagai awal millenium, penggunaan kerudung di tanah air merata, dan tidak lagi terbatas pada usia dan kelas ekonomi. Namun, pada tahun ini juga sempat terjadi pro-kontra karena munculnya kerudung gaul. Pada periode ini mulai muncul desainer Pria seperti Itang Yunasz, yang memberi warna baru pada desain-desain busana muslim Tanah Air. Dengan slogan, busana muslim untuk semua kalangan, Itang berani membuka gerai mulai dari butik mewah hingga pasar Tanah Abang.

Pada zaman ini, muncul istilah Kerudung gaul. Perpaduan dari sisi keagamaan dan kondisi sosial. Hal ini paling mudah dilihat pada remaja yang menggunakan kerudung, tetapi pakainnya membentuk lekuk tubuh.

Memang pada masa itu sedang trend gaya kasual yang memadukan kerudung dengan T-shirt fit body dan celana denim. Selain itu, muncul juga tampilan formal pergi ke pesta berupa kebaya yang dipadukan dengan beragam model kerudung yang rumit.

Desainer Indonesia juga telah menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai kerudung instan (Jilbab instan) dan Cadar instan (Instant cadar) Kerudung tersebut disebut instan karena langsung siap untuk dipakai sehingga pemakai tidak perlu aksesoris seperti pin dan atau bandana untuk memperketat cengkeramannya. Selain itu desainer Muslim Indonesia telah mengembangkan kain mereka sendiri.

Pada tahun 2008 , misalnya, tren baru dalam penggunaan kain busana Islam terbuat dari tenun tradisional Indonesia (Tradisional menenun), sedangkan pada tahun 2007 batik sangat populer. Bahan-bahan ini, termasuk juga sutra, sebagian besar digunakan untuk blus panjang dengan celana atau rok dan dilengkapi dengan kerudung trendi.

Singkatnya, Indonesia mengimpor gaya dan desain dari luar negeri, desainer Indonesia telah merubah ini ke dalam gaya lokal. Memang benar pengaruh eksternal masa lalu memberikan kontribusi terhadap pengenalan busana Muslim.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri busana muslim banyak dipengaruhi oleh proses penciptaan para desainer busana di Indonesia. Mereka tidak hanya percaya diri dalam keterampilan rancangannya, namun juga kreatif menyerap produk budaya Indonesia, seperti batik, tenun, bordir dan sutra . Mereka telah menjadi produsen dan bahkan memperkenalkan gaya modis berbusana muslim dalam industri fashion tanah air.

Selain itu, pada awal milenium, media berperan penting dalam mempopulerkan karya perancang busana muslim Indonesia. Majalah wanita Muslim penuh dengan iklan mempromosikan busana muslim dan menjual produk-produk kecantikan.

Tiga majalah besar yang berfokus pada busana Islam Noor, Paras dan Alia ikut berperan mempromosikan penggunaan kerudung gaul yang terdiri dari kerudung yang sederhana dikenakan dengan celana, seperti jeans biru, dan kaos lengan panjang.

Era Tahun 2011

Pada tahun 2011 muncul komunitas jilbab kontemporer yang memberikan warna baru tidak hanya pada model baju muslim tetapi juga style berhijab. Pada masa ini hingga sekarang memang semakin banyak orang mengenal berbagai jenis model baju muslim dengan banyak aplikasi yang mengiringinya, seperti  ditambahkan payet, motif, bordir, efek kerut  serta pilihan warna yang lebih variatif.

KIBLAT FASHION MUSLIM DUNIA

Jika gelar pusat fashion konvensional sudah didapatkan oleh Paris. Butuh usaha berat dan perjuangan panjang untuk merebutnya. Seiring berkembangnya zaman, Indonesia melihat ‘celah’ untuk bisa menjadi yang terdepan di dunia fesyen, lewat busana muslim. Bukan tanpa alasan mengapa cita-cita ini dipilih dan diupayakan sukses. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim yang besar, Indonesia punya banyak peluang untuk menggarap sektor busana muslim.

Selain itu, desain-desain busana muslim Indonesia pun diakui punya keanekaragaman dan juga model yang tak berbeda dari busana muslim pada umumnya. Dengan kata lain, busana muslim Indonesia dikagumi muslimah lain di seluruh dunia.

Busana muslim kreasi desainer Indonesia ini dianggap bisa tampil gaya tanpa harus ‘terbuka’. Berbagai keuntungan dan kesempatan ini dimanfaatkan penggiat mode dan pemerintah untuk bisa sukses di dunia fashion muslim.

Indonesia pun menggantungkan mimpi untuk jadi kiblat busana muslim dunia pada tahun 2020. Dilansir dari Cnnindonesia.com, tercatat dari 750 ribu industri kecil menengah yang ada di Indonesia, 30 persennya merupakan industri fashion muslim.

JENIS BUSANA MUSLIM

Perkembangan busana muslim di tanah air, tentu tak lepas dari pengaruh pakaian Abaya, Burqa, dan Niqab yang sering digunakan kaum muslimah di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, busana muslim mengadaptasi kultur lokal, sesuai dengan kondisi sosial setempat, tanpa meninggalkan esensi sebagai penutup aurat. Dalam perkembangannya, dikenal beberapa jenis pakaian muslim.

Pakaian Wanita

  1. Abaya merupakan pakaian berpotongan lurus, lebar, dan longgar yang panjang hingga mata kaki.
  2. Gamis merupakan pakaian panjang hingga semata kaki yang biasanya memiliki aksen pada bagian pinggang.
  3. Tunik merupakan pakaian yang panjang sampai lutut atau 7/8 kaki.
  4. Kaftan merupakan variasi dari tunik dengan berbentuk dasar kotak.
  5. Blouse merupakan atasan bermodel longgar.
  6. Gaun dress muslimah merupakan gaun berbentuk dress panjang yang digunakan untuk menghadiri pesta atau acara formal lainnya.

Pakaian Pria

  1. Baju koko merupakan pakaian yang bentuknya mirip dengan kemeja, tetapi memiliki model kerah shanghai.
  2. Gaya kurta merupakan pakaian yang panjang sampai lutut atau 7/8 kaki.

Jubba merupakan pakaian longgar berpotongan lurus yang panjangnya hingga semata kaki.

Sumber : becika.com